Hidupnya Ilmu dengan Mudzakarah dan Majlis Ilmu

Artikel

Ilmu itu bagaikan api ia tidak akan menyala tanpa sumbu, dan tidak akan bertahan tanpa minyak. Demikian pula ilmu, ia hidup dengan mudzakarah (tukar pikiran) dan majlis ilmu. Ilmu bukan sekadar hafalan di kepala, tetapi cahaya yang berpindah dari hati ke hati melalui pertemuan, diskusi, dan adab dalam mendengar maupun menyampaikan.

Karena itu, dalam tradisi Islam, majlis ilmu bukan hanya ruang belajar, tetapi taman surga di dunia. Rasulullah ﷺ bersabda:

“Apabila kalian melewati taman-taman surga, maka singgahlah di dalamnya.”

Para sahabat bertanya, “Apakah taman-taman surga itu, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Majlis-majlis dzikir (ilmu).” (HR. Tirmidzi)

Majlis ilmu menjadi bukti bahwa Islam tidak hanya memuliakan ilmu, tetapi juga memuliakan proses dan tempat ilmu itu berkembang. Tidak cukup banyak ustadz, doktor, atau profesor di atas kertas jika tak ada majlis tempat mereka saling berbagi, menghidupkan, dan menumbuhkan semangat mencari kebenaran. Sebab, ilmu yang tidak dimajliskan akan padam perlahan, kehilangan ruhnya, dan hanya tinggal gelar tanpa cahaya.

Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menegaskan:

“Ilmu akan hilang bila tidak diamalkan, dan akan mati bila tidak dimusyawarahkan.”

Karena itu, mudzakarah bukan hanya forum intelektual, tetapi juga ibadah; tempat di mana hati disucikan, pikiran ditajamkan, dan ukhuwah ditumbuhkan.

Dalam konteks pendidikan pesantren, mudzakarah menjadi jantung kehidupan keilmuan. Ia menjaga semangat tafaqquh fid-din, mempertemukan guru dan murid dalam kehangatan dialog, dan menanamkan adab berpikir. Di sana ilmu tidak hanya diajarkan, tetapi juga dihidupkan dengan keteladanan, tanya jawab, dan keterlibatan jiwa.

Seorang ilmuwan Muslim modern, Syed Muhammad Naquib al-Attas, menulis bahwa ilmu yang benar tidak cukup diajarkan, tetapi harus “ditransmisikan dengan adab dan keberkahan dari guru kepada murid.” Di sinilah pentingnya majlis ilmu sebagai ruang transmisi nilai dan makna, bukan sekadar informasi.

Maka, kemuliaan ilmu tidak terletak pada seberapa banyaknya kita tahu, tapi sejauh mana ilmu itu hidup di tengah masyarakat melalui majlis-majlis ilmu yang terus berdenyut. Jika majlis itu padam, maka reduplah cahaya peradaban Islam. Wallahu alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *