Sejarah Pesantren Persis 138 Sindang Cikijing
Sejarah Pesantren Persis 138 Sindang Cikijing tentunya tidak terlepas dengan sejarah induk organisasinya yaitu PC. Persis Cikijing, karena berdirinya Pesantren Persis 138 Sindang Cikijing tidak terlepas dari peran serta dan dorongan para tasykil PC. Persis Cikijing yang memandang perlu adanya regenerasi dan kaderisasi perjuangan yang dipandang paling efektif dan efisien adalah dengan pendidikan.
Kalau kita melihat sejarah, masyarakat Majalengka tepatnya di Cikijing sudah mengenal ide – ide pemikiran keislaman dari para ustadz Persis sejak dari tahun 1960 an, yaitu melalui interaksi para pedagang ketika bepergian ke bandung dengan aktifis Persis. Akan tetapi mereka para pedagang Cikijing tidak secara resmi masuk menjadi anggota persis, baru menjadi simpatisan Persis.
PC Persis Cikijing memiliki history lika-liku perjuangan yang begitu panjang sejak masih menjadi Pimpinan Jama’ah (PJ), sampai sampai kemudian berubah menjadi Pimpinan Cabang (PC), diantara tokoh penting yang mengembangkan Persis di Cikijing sekaligus ikut membidani lahirnya Pesantren Persis 138 Sindang Cikijing adalah Ustadz Halim, Abah Nurjabidi, dan Kiyai Aan Zamani.
Buah manis dari perjuangan mereka adalah dengan lahirnya lembaga pendidikan Pesantren Persis 138 Cikijing, lembaga pendidikan yang diharapkan dapat membentuk dan mendidik para generasi muda yang akan meneruskan perjuangan Persis di Majalengka.
Bermula dari Madrasah Diniyyah Persis yang berdiri sekitar tahun 1990-an, kemudian didirikan tingkat Tajiziyyah pada tanggal 14 Juli 1999. Semenjak itulah Pesantren Persis 138 Cikijing terus berkembang hingga saat ini.
Sistem pendidikan di Pesantren Persis 138 Cikijing sangat menekankan penguasaan kitab turats berbahasa Arab serta pengamalan adab Islam. Santri diwajibkan menghafal Al Qur’an 30 juz dan Kitab Hadits Bulughul Maram sebagai bagian dari pendidikan adab (ta’dib). Mereka dibimbing oleh Murobbi yang memberikan pendampingan dalam ibadah, adab terhadap Allah Swt, Rasululloh SAW, orang tua, guru, diri sendiri, dan masyarakat.
Pesantren dipimpin oleh Mudir ‘am, sebagai pimpinan tertinggi di pondok pesantren yang menaungi madrasah diniyyah dan tsanawiyah. Visi pesantren ini adalah “Terwujudnya Manusia sebagai Khalifah Alloh di muka bumi”. Visi pesantren ini merupakan pengamalan dari Q.S Al- Baqarah ayat 30.
Pendidikan adab tidak hanya diterapkan di dalam pesantren, tetapi juga melibatkan orang tua dan masyarakat, termasuk jamaah masjid. Setiap orang tua dituntut menjadi pendidik di rumah, dan masyarakat turut berperan dalam pembinaan adab. Pesantren juga menerapkan sistem “Raport Asrama” yang dimonitor oleh murobbi, orang tua, dan jamaah masjid. Asrama disediakan bagi santri yang tinggal jauh, dengan peran orang tua sebagian diwakili oleh Murabbi di pesantren.
